Kritik terhadap Bank Syariah, Pendekatan “Tujuan Ekonomi Islam”

By | 18 Februari 2018

Bank syariah

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya : 107)

Dari ayat di atas dijelaskan tentang salah satu tujuan Allah SWT menurunkan agama Islam di dunia ini. Ini yang seharusnya kita rasakan dengan adanya Islam yang memberikan segala solusi permasalahan yang ada pada dunia ini. Islam yang secara eksklusif mempunyai tiga dimensi seharusnya bisa menjadi pedoman dalam kehidupan ini. Akhlakul Karim menjadi bagian integral pertama yang melekat pada individu-individu seluruh umat Rasulullah SAW seharusnya bisa kita lihat. Masyarakat Islami yang tercipta dengan adanya generasi Rabbani umat Islam seharusnya bisa dirasakan bersama. Negeri yang penuh berkah seharusnya bisa terbentuk oleh masyarakat-masyarakat yang penuh dengan keimanan. Tetapi yang terjadi sekarang ini belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh manusia di seluruh alam semesta ini.

Latar Belakang

Banyak kalangan orang yang menyatakan bahwa Ekonomi Islam sekarang sedang mengalami perkembamgan yang sangat pesat dengan munculnya Lembaga Keuangan Syariah, khususnya Perbankan Syariah. Ini semakin diperkuat dengan tumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan dan wacana Ekonomi Islam. Selain itu dengan meningkatnya kesadaran umat seiring dengan berkembangnya wacana tentang ekonomi Islam melalui bebagai saluran , juga semakin nampaknya perkembangan ekonomi Islam, terutama di Indonesia. Sejak tahun 80-an konsep Bank Syariah mulai bergulir sebelum keluar kerangka hukum formal sebagai landasan opersional perbankan Syariah. Dan dengan lahirnya UU No. 7 Tahun 1992 memberi angin segar bagi perkembangan perbankan Syariah, yang secara implisit UU No. 7 tersebut telah membuka peluang kegiatan perbankan yang memiliki dasar operasional bagi hasil (Profit Sharing). Setelah BMI yang berdiri tahun 1992, berdiri pula Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank BNI Syariah, dan segera menyusul BRI Syariah, Bank Niaga Syariah dan Bank Mega Syariah. Selain itu juga muncul berbagai Lembaga Keuangan Syariah yang menggunakan label Syariah, sebagai contoh Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, dan lain sebagainnya. Akan tetapi penulis hanya akan fokus pada Perbankan Syariah, karena memang hal tersebut yang sering digunakan sebagai label Ekonomi Islam, terutama madzhab mainstream. Tetapi apakah penggunaan Bank Syariah sebagai label Ekonomi Islam adalah sejalan jika dilihat dari tujuan Ekonomi Islam.

Tujuan Ekonomi Islam

Pada dasarnya setiap manusia selalu menginginkan kehidupannya di dunia ini dalam keadaan bahagia, baik secara material maupun spiritual, individual maupun sosial. Namun dalam praktiknya kebahagiaan multi dimensi ini sangat sulit diraih karena keterbatasan kemampuan manusia dalam memahami sumber daya yang bisa digunakan. Di dalam sudut pandag Ekonomi Islam tujuan diterapkannya suatu aturan dalam ekonomi merupakan titik fokus utama, antara lain :

Mendapatkan Ridha dari Allah SWT, karena setiap perbuatan yang kita lakukan tentunya harus dengan ridha Allah SWT. Begitu juga dalam kita melakukan kegiatan muamalah, karena muamalah adalah bagian integral dari Agama Islam.

Terjaminnya kebutuhan setiap individu, terutama kebutuhan pokok. Ini menjadi tolak ukur utama apakah suatu perekonomian dikatakan berhasil atau tidak.

Terciptanya Falah, yaitu kemuliaan dan kemenangan dalam hidup di dunia maupun di akhirat. Sehingga tidak hanya memandang aspek materil saja, namun justru lebih ditekankan pada aspek spiritual.

Terwujudnya Mashlahah, yaitu segala bentuk keadaan, baik materil maupun nonmaterial yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia.

Keadilan dalam Peran serta Ekonomi dan Stabilitas Pertumbuhan Ekonomi.

Dengan demikian, kita bisa melihat apakah kegiatan perekonomian Islam mikro maupun makro sudah sesuai dengan yang ingin dicapai dalam palaksanaan perekonomian atau belum. Sudah sewajarnya kita sebagai orang muslim harus cermat dan teliti dalam menilai suatu realita yang kita hadapi saat ini.

Kritik Terhadap Bank Syariah Dengan Pendekatan Tujuan Ekonomi Islam

Pertama yang harus kita pahami adalah pengertian dari Bank Syariah itu sendiri. Bank Syariah atau Bank Islam (Islamic Bank) adalah sebuah lembaga keuangan yang menjalankan operasinya menurut Syariah Islam. Pada dasarnya yang membedakan antara Bank Konvensional dan Bank Syariah adalah tidak adanya sistem bunga pada Bank Syariah yang digantikan dengan berbagai jenis transaksi. Al-Mudharabah adalah salah satu jenis akad andalan dari Bank Syariah, karena mempunyai berbagai jenis kegiatan pembiayaan maupun penghimpunan dana. Di sisi pembiayaan yang sering kita dengar dengan istilah bagi hasil antara Bank sebagai shahibul mal (pemilik modal) dengan nasabah yang bertindak sebagai mudharib (pengelola). Dan pada sisi penghimpunan dana diterapkan pada tabungan berjangka, deposito spesial, dan lain sebagainya. Selain mudharabah ada juga akad qardh, hiwalah, rahn, wakalah, kafalah, ijarah, murabahah yang semuanya menjadi ciri khas sekaligus pembeda antara Bank Syariah dan Bank Konvensional. Akan tetapi dengan banyaknya pelayanan dan berbagai transaksi tidak menutup kemungkinan untuk mendapat perhatian dan juga kritikan. Oleh karena itu penulis akan sedikit mncoba melakukan muhasabah (koreksi) terkait dengan Perbankan Syariah.

Kritikan Pertama

Tidak dapat dipungkiri bahwa Bank Syariah sendiri merupakan usaha yang profit oriented. Oleh karena itu besarnya proporsi pembiayaan murabahah hingga sampai saat ini mencapai sekitar 60-70% jumlah pembiayaan yang disalurkan oleh Bank Syariah. Keadaan ini memang tidak hanya menjangkiti Bank Syariah di Indonesia tetapi juga di Malaysia dan negara-negara Timur Tengah. Di mana akad murabahah adalah akad jual beli dimana bank membeli kepada produsen kemudian menjual kepada nasabah dan bank mendapatkan margin. Ada beberapa alasan rasional yang dapat dijadikan penjelasan mengapa murabahah lebih dipilih, yaitu:
1. Murabahah adalah investasi jangka pendek dan mudah bila dibandingkan dengan musyarakah dan mudarabah.
2. Mark up/margin yang menjadi ciri khas murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga dapat dipastikan Islamic bank mendapat keuntungan yang sebanding dengan keuntungan yang diperoleh bank kovensional.
3. Keuntungan murabahah pasti sebab murabahah merupakan natural certainty contracs, tentunya ini berbeda dengan bisnis dengan system profit and loss sharing yang menganut natural uncertainty contracs.
4. Dalam murabahah Islamic bank sebagai pemberi pembiayaan tidak mencampuri manajemen bisnis sebab hubungan dalam murabahah adalah kreditur dengan debitur.

Selain itu juga kita sering menjumpai praktek di lapangan Bank Syariah, yang pertama penentuan margin sepenuhnya dilakukan oleh Bank Syariah. Penentuan secara sepihak ini tidak diperbolehkan karena dalam akadnya harus ada keterbukaan dari pihak bank. Yang kedua kebanyakan Bank Syariah tidak menyerahkan barang kepada nasabah tetapi memberi uang kepada nasabah sebagai wakil untuk membeli barang yang dibutuhkan. Hal ini tentu menyimpang dari aturan fiqh, karena ada dua transaksi dalam satu akad yaitu wakalah dan murabahah. Di samping itu, dengan transaksi yang demikian dapat saja nasabah melakukan penyelewengan terhadap dana yang diberikan oleh Bank Syariah.

Kritikan Kedua

Selain murabahah juga ada beberapa hal yang menjadi catatan, yaitu tentang akad Mudharabah. Pertama, Jika kita menengok praktek mudharabah di lapangan, maka akan jarang ditemui akad mudharabah murni karena akadnya adalah mudharabah yang dimodifikasi dengan musyarakah karena modalnya berasal dari dua pihak, Bank Syariah dan nasabah. Walaupun dalam hal manajemen, Bank Syariah tidak ikut campur. Hal ini terjadi karena Bank Syariah hanya mau memberikan pembiayaan kepada usaha yang telah berjalan selama kurun waktu tertentu. Kedua, pembagian return pembiayaan ternyata tidak berdasarkan sistem bagi hasil dan rugi (profit and loss sharing) tetapi menggunakan sistem bagi pendapatan (revenue sharing). Sistem ini dipilih karena Bank Syariah belum sepenuhnya berani berbagi risiko atau kerugian (loss /risk sharing) modal secara penuh. Terakhir, mengenai keuntungan yang harus diberikan nasabah ternyata telah dikira-kira (ditetapkan di muka) oleh Bank Syariah karena nasabah tidak mampu membuat laporan keuangan untuk menghitung laba atau rugi usahanya.

Kritikan ketiga

Banyak Bank Syariah yang belum secara menyeluruh dalam melakukan kegiatan perekonomian Islam, yaitu belum memiliki usaha nyata yang dapat menghasilkan keuntungan. Semua jenis produk perbankan yang mereka tawarkan hanyalah sebatas pembiayaan dan pendanaan. Dengan demikian, pada setiap unit usaha yang dikelola, peran perbankan hanya sebagai penyalur dana nasabah.

Sebagai contoh nyata dari produk perbankan yang ada ialah mudharabah. Operator perbankan tidak berperan sebagai pelaku usaha, akan tetapi sebagai penyalur dana nasabah. Hal ini mereka lakukan, karena takut dari berbagai resiko usaha, dan hanya ingin mendapatkan keuntungan. Bila demikian ini keadaannya, maka ini tidak sesuai dengan semangat dari Ekonomi Islam itu sendiri, yaitu mengacu pada sektor riil. Tetapi juga kadang ada semacam apology (pembelaan) dari Bank Syariah. Bank Syariah mengatakan bahwa adanya perbankan adalah untuk menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana dan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan dana. Tentu kalau kita cermati memang sekilas tidak ada masalah, akan tetapi kita juga harus ingat bahwa di dalam Ekonomi Islam kegiatan perekonomian di dasarkan pada sektor usaha yang nyata. Selain itu juga jika Perbankan Syariah belum mempunyai badan usaha yang nyata maka dapat menjadi indikasi bahwa Perbankan Syariah hanya mencari aman atau tidak mau mengambil resiko.
Kesimpulan

Dari sedikit uraian diatas kita bisa melihat adanya sedikit pembelokan kegiatan Perekonomian Islam khususnya Perbankan Syariah. Di mana masih ada kegiatan yang belum mengarah pada tujuan Ekonomi Islam dalam pelayanan terhadap nasabah oleh Bank Syariah. Misalnya dalam akad musyarakah masih ada Bank Syariah yang menentukan margin secara sepihak terhadap nasabah, tentu ini tidak sesuai dengan tujuan Ekonomi Islam, yaitu dalam rangka mendapatkan ridha dari Allah SWT. Selain itu juga dalam pembiayaan mudharabah, di mana masih adanya praktek oleh Bank Syariah yang memilih calon nasabah (mudharib), tentunya ini tidak sejalan dengan tujuan Ekonomi Islam yaitu terjaminnya kebutuhan, terciptanya falah dan juga terwujudnya mashlahah. Oleh karena itu jika keadaan dari Perbankan Syariah memang seperti ini maka dapat di katakana jika kegiatan perekonomiannya belum secara sempurna mengacu pada tujuan Ekonomi Islam itu sendiri.

Daftar Bacaan

1. M.Ismail Yusanto dan M. Arif Yunus, Pengantar Ekonomi Islam, (Bogor: Al-Azhar, 2009)
2. M. Salim, Profit Sharing VS Interest (Sebuah Kajian Perbandingan), (Ponorogo: CIOS, 2007)
Ibid
3. Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2008)
4. Taqiyuddin An-Nabhani, Sistem Ekonomi Islam, (Bogor: Al-Azhar Press, 2009)
5. Ruslan Fariadi, Bank, Asuransi, Riba Serta Etika Bisnis (Menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah, Fuquha’ dan Organisasi-organisasi Islam Internasional), (Yogyakarta: Surya Ilmu, 2007)
6. http://www.google.com/ Kritis Terhadap Bank Syariah
7. M. Arifin Bin Badri, Riba & Tinjauan Kritis Perbankan Syariah, (Bogor: Pustaka Darul Ilmu, 2009)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *