Zakat Tanaman

By | 23 Juni 2018

Zakat tanaman

Tidak semua harta terkena kewajiban zakat. Diantara harta (mâl) yang terkena kewajiban zakat adalah: 1) hewan tertentu, 2) emas, perak dan uang, 3) tanaman dan buah tertentu, 4) harta perdagangan, juga 5) rikâz (harta dari galian).

Jenis Tanaman yang Terkena Zakat

Tidak semua tanaman terkena kewajiban zakat. Para ‘Ulama sepakat bahwa zakat diwajibkan pada gandum (hinthah), jewawut (asy-sya’îr), kurma (at-tamru) dan kismis (az-zabib). Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru yang berkata:

الزَّكَاةُ فِي الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ

“Zakat itu (wajib) terhadap gandum, jewawut, kurma dan kismis. (HR. Ad Daruquthni).

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، وَمُعَاذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا حِينَ بُعِثَا إِلَى الْيَمَنِ لَمْ يَأْخُذَا إِلَّا مِنَ الْحِنْطَةِ وَالشَّع(ِيرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ

“Dari Abu Musa al Asy’ary dan Muadz bin Jabal r.a, bahwasanya ketika mereka berdua diutus ke Yaman, (agar) tidak memungut (zakat) kecuali dari gandum,jewawut, kurma dan kismis.” (HR. Al Baihaqi, beliau katakan “perowinya tsiqat, dan hadits ini muttashil”).

Adapun jenis tanaman yang lain, terjadi ikhtilaf dikalangan para ahli fiqh. Kalangan Syafi’iyyah berpandangan bahwa tanaman yang menjadi makanan pokok masyarakat, yang tahan disimpan tanpa rusak, yang secara adat ditanam oleh manusia juga wajib dizakati.[1] Oleh karena itu tidak wajib mengeluarkan zakat buah tin, apel, delima, zaitun (dalam qoul jadid), persik (khawkh), kenari (jawz), badam (lawz), pisang dan buah yang lain, karena itu bukan makanan pokok.[2]

Kadar Zakat

Jika total hasil panen mencapai nishab, maka kadar zakatnya dilihat:[3]

Jika diairi dengan air hujan atau alami, wajib dikeluarkan 1/10 dari hasil panen (10%).

Jika pengairannya membutuhkan biaya, seperti disirami oleh tukang siram, mesin air, kincir, dll, maka wajib dikeluarkan 1/20 dari hasil panen (5%).

Jika diairi setengahnya dengan alami, setengahnya dengan biaya, atau dia tidak tahu berapa kadar pengairannya secara alami, maka kadar zakatnya adalah 3/40 dari hasil panen (7,5 %).

Nishab Zakat

Nishab zakat tanaman adalah 5 wasaq = 60 sho’. Jika ditakar dengan liter, para ‘ulama beda pendapat, sebagian menyatakan 900 liter, atau 652,8 kg gandum, di al Mu’tamad nishabnya 720 kg). Wasaq adalah takaran (ukuran volume), bukan timbangan (ukuran berat/massa), sehingga dari sisi beratnya bisa berbeda-beda tergantung jenis biji apa yang ditimbang, massa jenisnya, dan kadar kekeringan biji tersebut.

Waktu Wajib dan Pengeluaran

Waktu wajibnya zakat tanaman adalah setelah biji tanaman mengeras atau layak dipetik, hanya saja tidak bisa langsung dikeluarkan zakatnya saat itu juga.

Waktu pengeluaran zakat tanaman adalah setelah tanaman matang, dipanen, dan dibersihkan. Allah berfirman:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)” (QS. Al An’âm 141).

Kurma tidaklah dikeluarkan zakatnya kecuali setelah menjadi tamar (kurma kering), begitu juga anggur tidak dikeluarkan zakatnya kecuali setelah menjadi zabîb(kismis).[4] Jika dikeluarkan zakatnya dalam bentuk anggur dan ruthab (kurma basah), maa hal itu tidak tirhitung zakat.

Setelah kurma dan anggur matang (sebelum kering), disunnahkan bagi Imam (khalifah) untuk mengutus orang yang akan memperkirakan proyeksi hasil kurma kering dan kismis yang bakal diperoleh.

Biaya pemanenan, pembersihan dan pengeringan dibebankan kepada pemilik, bukan dibebankan kepada zakat. Allâhu A’lam. [MTaufikNT]

Rujukan:

  • Al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i juz 2 bab Zakat
  • Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaytiyyah

[1] Al Mu’tamad, 2/55

[2] Al Mu’tamad, 2/57.

Kalangan Hanafiyyah mewajibkan zakat untuk semua jenis tanaman yang dimaksudkan untuk mengeksploitasi lahan pertanian, baik itu buah-buahan, biji-bijian maupun sayuran. Dikecualikan dari itu adalah tanaman yang secara adat tidak ditanam untuk ekspoitasi lahan, seperti kayu, hasyisy (rumput), terong, semangka, dan jenis tanaman obat, hanya saja jika dimaksudkan dengan menanamnya itu untuk eksploitasi lahan maka tetap terkena zakat.

Mereka berhujjah dengan mengambil keumuman hadits Nabi:

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ

“apa yang diairi dengan air hujan atau (diari) dari tanah yang diairi hujan, maka (dikeluarkan) sepersepuluh” (HR. Al Bukhari).

[3] Al Mu’tamad, 2/58-59

[4] Al Mu’tamad, 2/62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *