RUPIAH ANJLOK, HUTANG MENGGELEMBUNG

By | 16 Oktober 2018

M.Hatta.,
Sekjen Institut Ekonomi Ideologis
[IEDe]
====

Hingga tanggal 9 Mei 2018, Rupiah tampak semakin lunglai menghadapi Dollar Amerika Serikat dan sejumlah mata uang lainnya seperti Euro dan Yen Jepang.

Terhadap Dollar Amerika, jika kita lihat kurs transaksi jual Bank Indonesia tertanggal 02 Januari 2018 hingga 9 Mei 2018, Rupiah terdepresiasi mencapai Rp534.

Di tanggal yang sama, posisi Rupiah terhadap Euro dan Yen masing-masing mengalami depresiasi mencapai Rp428 dan Rp852.

Adapun hutang Luar Negeri Indonesia pada di bulan Februari 2018 dalam bentuk mata uang Dollar Amerika, Euro, dan Yen masing-masing adalah USD 81.4 milyar, USD 12 milyar, dan USD 18.7 milyar.

Hutang Dalam Negeri Pemerintah Indonesia hingga Desember 2017 Rp3.938 triliun. Dari jumlah tersebut mata uang USD mencapai 29%, Euro 4%, dan Yen sebanyak 6%.

Depresiasi Rupiah yang cukup dalam tak pelak lagi menimbulkan kekhawatiran akan kondisi ekonomi Indonesia. Sebagai contoh adalah pengaruh negatif depresiasi Rupiah terhadap besaran jumlah hutang yang semakin menggelembung.

Dari sisi hutang dalam negeri yang jumlahnya mencapai Rp 3.938 triliun di bulan Desember 2017, hutang Indonesia menggelembung mencapai Rp 89,6 triliun khusus untuk hutang dalam denominasi dollar Amerika Serikat. Artinya, nilai hutang dalam negeri Indonesia akan semakin meningkat gelembungnya jika ditambah dengan depresiasi dari mata uang lain seperti Euro dan Yen.

Sementara dari hutang luar negeri yang berjumlah USD 181,3 milyar di bulan Februari 2018, 81,4 milyar di antaranya adalah berdenominasi dollar AmerikaSerikat. Dari jumlah tersebut, penggelembungan hutang sebagai akibat depresiasi Rupiah terhadap US dollar mencapai Rp 43,5 triliun rupiah.

Jika kita jumlahkan penggelembungan hutang dalam dan luar negeri di atas mencapai Rp 131,1 triliun rupiah. Jumlah ini belum termasuk dari depresiasi mata uang lain (Euro dan Yen).

Jumlah ini juga akan semakin meningkat tajam jika ditambahkan dengan penggelembungan hutang yang dimiliki oleh Bank Sentral Indonesia dan sektor swasta di Indonesia yang masing-masing mencapai Rp 357,2 milyar dan Rp 83,3 triliun rupiah menjadi Rp 216,7 triliun.

Hutang Menggelembung, Kebutuhan Rakyat Tak Terpenuhi
====

Angka tersebut tentunya merupakan angka yang sangat besar nilainya jika dibandingkan dengan penerimaan negara bukan pajak yang nilainya hanya mencapai Rp 275,4 triliun.

Besaran nilai penggelembungan tersebut bahkan juga lebih besar dibandingkan dengan belanja pemerintah pusat dalam pendidikan dan perlindungan sosial di tahun 2018 yang masing-masing hanya senilai Rp 147,6 triliun dan Rp 162,6 triliun.

Bahkan jauh lebih besar dengan nilai subsidi dan bantuan sosial yang dianggarkan oleh pemerintah di tahun 2018 yang masing-masing hanya bernilai Rp 156,2 triliun dan Rp 81,3 triliun.

Akar Masalah
====

Permasalah Rupiah di atas seringkali hanya dilihat dari sisi bahwa itu semua disebabkan faktor kondisi lebih tingginya suku bunga luar negeri dibandingkan domestik. Sehingga kemudian diperlukan suku bunga yang kompetitif dengan luar negeri.

Lebih jauh biasanya juga dikatakan karena terlalu bebasnya arus keluar valuta asing. Karenanya diperlukan limitasi dari sisi time holding maupun nilai transaksi yang tidak memiliki basis ekonomi riil.

Itu semua sebenarnya hanyalah bagian permukaan dari masalah, jauh lebih dalam dari itu adalah terdapat akar masalah berupa sistem transaksi keuangan yang berbasiskan ribawi. Transaksi valas dan Portofolio dengan mekanisme forward, Option, dan Swap, serta tingkat suku bunga bank sentral itu sendiri merupakan transaksi ribawi yang secara tegas telah dilarang oleh Islam. Bahkan diancam diperangi oleh الله dan Rasul-Nya.

Sistem keuangan inilah yang menyebabkan perkembangan nilai dari valas dan aset-aset keuangan yang bersifat benalu jauh lebih cepat berkembang dibandingkan nilai barang dan jasa dan bahkan bergerak begitu liar alias fluktuatif. Jika hal ini terus dibiarkan, keluar dari krisis ekonomi dan keuangan hanyalah isapan jempol belaka.

Sampai Kapan Kita Terus Mempertahankan Sistem Ekonomi dan Keuangan Ribawi ini???

#IslamSelamatkanNegeri
#KelolaIndonesiaDenganIslam
#KhilafahAjaranIslam
#SayaCintaIndonesia

Sumber data:
Statistik Utang Luar Negeri April 2018

Informasi APBN 2017

Profil Utang dan Penjaminan Pemerintah Pusat Desember 2017

#Menjelang15Ribu
#TinggalkanKapitalisme
#IndonesiaPerluKhilafah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *