Zakat Mata Uang/ Tabungan

By | 30 Mei 2019

Oleh Ust. M. Taufik NT

066. *Zakat Mata Uang/Tabungan*

Emas dan perak, jika telah mencapai nishab, yakni 20 dinar (85 gram emas), atau 200 dirham (595 gram perak[1]), dan telah berlalu masa setahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%, tidak ada perbedaan pendapat ‘ulama dalam hal ini, yang terjadi perbedaan hanya dalam hal emas dan perak sebagai perhiasan yang benar-benar dipakai apakah wajib dizakati atau tidak, mayoritas ‘ulama menyatakan tidak wajib, sementara kalangan Hanafiyyah menyatakan tetap wajib dizakati. Begitu juga mata uang kertas, jika dijamin (distandarisasi) dengan emas dan perak, maka tetap wajib dizakati sesuai dengan nishab emas dan perak.

Adapun mata uang kertas yang tidak dijamin dengan emas dan perak, para ‘ulama berbeda pendapat. Namun mengingat bahwa berkaitan dengan kewajiban zakat emas dan perak, Rasulullah saw dalam beberapa haditsnya menggunakan lafadz ‘riqqah’, ‘waraq’, ‘awaq’, ‘dirham’, dan, ‘dinar’, yang semuanya merujuk pada emas dan perak sebagai satuan mata uang, maka hal tersebut menunjukkan diwajibkan zakat atas uang dan alat pembayaran, baik bahannya emas dan perak atau bukan. Inilah Keputusan Majma’ Al Fiqh Al Islami pada daurahnya yang ke-3, no: 9, menyatakan bahwa uang kertas merupakan uang yang mempunyai sifat penuh sebagai alat tukar, sehingga berlaku baginya hukum-hukum syar’i sebagaimana yang berlaku pada emas dan perak, inilah pandangan mayoritas ulama masa kini[2] termasuk juga yang dinyatakan dalam al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i (2/34).

*Syarat-Syarat Wajib Dikeluarkan Zakat Mata Uang*
1. Dimiliki atau dikuasai secara penuh (al-milk al-taam). Jika harta itu harta bersama, walau sampai nishabnya, namun secara individual tidak sampai nishab, maka menurut mayoritas ‘ulama tidaklah wajib zakat.

2. Sampai satu nishab dan berlalu satu tahun (haul) tanpa kurang dari nishab tersebut.

Rasulullah saw bersabda:

فَإِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ، وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ، فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ – يَعْنِي – فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا، فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا، وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ، فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ، فَمَا زَادَ، فَبِحِسَابِ ذَلِكَ
“Apabila kamu memiliki 200 dirham (perak), dan berlalu hingga satu tahun, maka didalamnya ada kewajiban zakat 5 dirham. Dan tidak (wajib) bagimu sesuatu zakat (dari emas) sehingga kamu memiliki emas sebanyak 20 dinar. Apabila engkau memiliki 20 dinar, dan berlalu hingga setahun kamu miliki, maka zakatnya adalah setengah dinar, dan kelebihan dari itu adalah sesuai dengan hitungan tsb” (HR Abu Daud).

Adapun nishab zakat mata uang kertas yang tidak dijamin dengan emas dan perak, maka para ahli fikih masa lalu menetapkan bahwa nishabnya menurut yang paling mashlahat untuk kaum faqir, dan nilai yang terendah dari emas atau perak, dengan demikian akan terlepas dari tuntutan Allah SWT. Oleh sebab itu, ketika perak sekarang lebih rendah nilainya daripada emas, maka hendaknya nishab zakat dihitung berdasarkan harga perak. Hanya saja mayoritas ulama saat ini menggunakan standar emas untuk nishab mata uang karena perak tidak lagi berpengaruh terhadap mata uang secara internasional. (al Mu’tamad fil Fiqh as Syafi’i (2/34-35).

Sebagai contoh, jika harga perak adalah Rp11.000 per gram, maka jika seseorang memiliki uang Rp6.545.000 (yakni 595 gram x Rp11.000) dan berlalu setahun (hitungan Qomariyah/Hijriyah), maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%, yakni Rp163.625. Jika memakai pendapat mayoritas ulama saat ini, jika harga emas per gram adalah Rp578.000, maka nishab nya adalah 85 gram x Rp578.000 = Rp49.130.000 yang wajib dikeluarkan zakatnya Rp1.228.250 jika berlalu satu tahun tanpa berkurang dari nishab. Piutang uang yang mungkin ditagih termasuk dalam harta yang ditambahkan ke nishab uang.

3. Tidak mempunyai hutang baik hutang ke manusia, ataupun hutang kepada Allah (dam, nadzar dll), ini menurut pandangan Malikiyyah, Hanafiyyah, Hanabilah dan qoul qadimnya Imam as Syafi’i. Hutang yang menjadikan tidak wajibnya zakat adalah hutang yang menjadikan uangnya berkurang dari nishab, dan hutang tersebut menjadi tanggungan orang yang berhutang sebelum jatuh tempo wajibnya zakat.

Adapun dalam qaul jadidnya Imam asy Syafi’i, juga pendapatnya Hammad dan Rabi’ah, hutang tidaklah menghalangi kewajiban zakat, kecuali jika secara riil hutang tersebut dibayar dan setelah itu uangnya berkurang nishabnya. Allâhu A’lam.[MTaufikNT]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *