Bolehkah Kita Meyakini Sosialisme-Komunisme dan Kapitalisme?

By | 3 November 2019

Soal:

Ada yang belum bisa menerima Sosialisme-Komunisme dan Kapitalisme sebagai ideologi kufur. Menurut mereka, apa yang bukan Islam, asal sesuai dan tidak bertentangan dengan Islam, tidak bisa disebut kufur. Betulkah?

 

Jawab:

Pertama: Kaidah “apa yang bukan Islam, asal sesuai dan tidak bertentangan dengan Islam, tidak bisa disebut kufur” adalah kaidah yang digunakan oleh kaum kafir untuk memasukkan ideologi dan sistem kufur di tubuh kaum Muslim sehingga bisa diterima sebagai bagian dari Islam, padahal bukan. Melalui kaidah ini, mereka memasukkan Sosialisme, Komunisme dan Kapitalisme dengan seluruh turunannya. Dengan kaidah ini, mereka telah berhasil memasukkan demokrasi, termasuk UU Sipil di tubuh Khilafah ‘Ustmaniyyah (Lihat, Soal-Jawab Hizbut Tahrir, 20 Rabiul Tsani 1386 H/7 Agustus 1966 M).1

Kedua: Sebagai ideologi, Sosialisme-Komunisme, juga Kapitalisme, tidak hanya tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan Islam. Ini bisa dilihat dari 4 aspek sebagai berikut:

  1. Akidah.

Sosialisme-Komunisme meyakini bahwa alam, manusia dan kehidupan adalah materi/benda [maddah]. Tidak ada yang lain di luar materi/benda. Sosialisme-Komunisme menolak adanya Tuhan sebagai Pencipta alam, manusia dan kehidupan. Karena itu Sosialisme-Komunisme menganggap Tuhan sudah mati dan agama adalah candu kehidupan. Sosialisme-Komunisme menolak keyakinan pada yang gaib, imateri atau metafisik; seperti adanya Tuhan yang menciptakan alam, manusia dan kehidupan; kehidupan setelah kematian, Hari Kiamat, serta akuntabilitas amal di hadapan Allah SWT.2

Kekufuran akidah seperti ini dengan tegas dinyatakan oleh Allah SWT:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Bagaimana mungkin kalian bisa mengingkari Allah, padahal kalian sebelumnya mati, lalu Dia menghidupkan kalian, lalu mewafatkan kalian, lalu menghidupkan kalian kembali dan kepada Dialah kalian akan dikembalikan (QS al-Baqarah [2]: 28).

 

Adapun Kapitalisme meyakini akidah Sekularisme. Sekularisme memisahkan antara agama dengan kehidupan, agama dengan negara. Menurut Sekularisme, agama hanya boleh mengatur kehidupan pribadi, bukan kehidupan publik, baik kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Sekularisme memang tidak menolak agama secara mutlak, sebagaimana Sosialisme-Komunisme, tetapi tetap saja agama hanya diyakini sebagian, tak terkecuali Islam. Akidah seperti ini juga jelas kufur. Kekufurannya dinyatakan di dalam al-Quran Surat al-Baqarah [2]: 85.

Karena itu, dari aspek akidah, baik Sosialisme-Komunisme maupun Kapitalisme, sama-sama merupakan akidah kufur yang haram dipeluk, diambil, diterapkan dan diemban di tengah masyarakat.

Kedua ideologi ini juga bertentangan dengan akidah Islam yang meyakini bahwa alam, manusia dan kehidupan adalah ciptaan Allah SWT. Semuanya akan binasa. Di balik alam, manusia dan kehidupan ada Allah, malaikat dan perkara yang gaib lainnya, termasuk Hari Kiamat; juga akuntabilitas amal perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia di dunia. Karena itu Islam berlaku dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya urusan spiritual dan ritual, tetapi juga masyarakat dan negara.

 

  1. Standar Perbuatan.

Sosialisme-Komunisme menjadikan dialektika materialisme (tathawwur mâdi) sebagai standar perbuatan. Teori dialektika materialisme inilah yang digunakan untuk melihat perubahan individu dan masyarakat. Inilah yang dikenal dengan materialisme historis.

Adapun Kapitalisme menjadikan asas manfaat (naf’iyyah) sebagai standar perbuatan. Apa yang dianggap bermanfaat dikerjakan. Apa yang dianggap tidak bermanfaat ditinggalkan. Ukuran manfaat itu adalah ketika sesuatu dianggap mempunyai nilai guna (utility value). Dianggap memiliki nilai guna saat masih ada individu dan masyarakat yang menginginkan-nya.

Sebaliknya, pandangan hidup Islam menyatakan bahwa segala sesuatu harus dibangun berdasarkan standar halal-haram. Jika halal boleh diambil dan dilaksanakan. Jika haram tidak boleh diambil dan dilaksanakan. Karena itu baik pandangan hidup Sosialisme-Komunisme maupun Kapitalisme, selain bertentangan dengan pandangan hidup Islam, juga sama-sama merupakan pandangan yang rusak dan merusak.

 

  1. Metode.

Berangkat dari akidah materialisme, dan pandangan hidup materialisme historis, maka metode yang diadopsi Sosialisme-Komunisme dalam mewujudkan pandangan hidupnya adalah kontradiksi (tanâqudh), antitesis dan turunannya, termasuk anti status quo dan kemapanan.

Adapun Kapitalisme, dengan akidah Sekularisme dan asas manfaatnya, mengadopsi metode kebebasan (hurriyah). Liberalisasi adalah metode baku Kapitalisme untuk mewujudkan pandangan hidupnya. Karena itu kebebasan sangat diagungkan dalam Kapitalisme.

Berbeda dengan Islam, akidah Islam dan pandangan hidupnya, halal-haram, tidak mungkin terwujud, kecuali dengan terikat dengan hukum Allah SWT. Karena itu keterikatan pada hukum Allah SWT merupakan metode baku Islam dalam mewujudkan pandangan hidupnya.

 

  1. Pandangan tentang kebahagiaan.

Sosialisme-Komunisme dengan pandangannya yang matelialistik, juga Kapitalisme yang melihat segalanya dengan pandangan untung-rugi, sepakat melihat kebahagiaan dengan ukuran materi. Dengan kata lain, manusia dianggap bahagia jika kebutuhannya yang bersifat materialistik itu terpenuhi. Sebaliknya, mereka akan merana dan menderita, jika kebutuhannya yang bersifat materialistik itu tidak terpenuhi.

Pandangan seperti ini berbeda sama sekali dengan Islam. Islam memandang kebahagiaan terletak pada ridha Allah SWT kepada manusia. Jika Allah ridha kepada manusia maka dia akan bahagia meski tidak semua kebutuhan materinya terpenuhi. Jika tidak, maka dia akan menderita meski semua kebutuhan materinya terpenuhi.

Keempat aspek di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa baik Sosialisme-Komunisme maupun Kapitalisme tidak sesuai dengan Islam dan bertentangan dengan Islam. Karena itu kedua ideologi ini haram dipeluk, diambil, diterapkan dan diemban di tengah-tengah masyarakat. Bahkan dengan memeluk dan meyakini kedua ideologi ini seorang Muslim bisa menjadi murtad dari Islam.

 

Ketiga: Aspek lain yang juga pasti berbeda adalah sistem turunan dari kedua ideologi tersebut. Sistem adalah kumpulan hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam aspek pribadi, masyarakat maupun negara. Karena sistem ini merupakan turunan dari ideologi tertentu, maka kaidah yang digunakan untuk mengambil dan tidaknya, bukan kaidah, “sesuai atau tidak dengan Islam” atau kaidah, “bertentangan atau tidak dengan Islam”, tetapi apakah sistem tersebut “dibangun berdasarkan akidah Islam atau tidak?” atau, “terpancar atau tidak dari akidah Islam?”

Jika sistem tersebut dibangun dari akidah Islam, atau terpancar dari akidah Islam, maka berarti masih bagian dari Islam, dan boleh diambil, diterapkan dan diemban di tengah masyarakat. Namun, jika tidak maka sistem tersebut bukan sistem Islam, dan haram diambil, diterapkan dan diemban di tengah-tengah masyarakat. Meski demikian, tidak berarti orang Islam—karena kebodohannya—yang mengambil, menerapkan dan mengembannya di tengah masyarakat bisa divonis murtad atau kafir; kecuali jika sampai pada keyakinan bahwa sistem Islam itu tidak benar dan sistem kufur itu lebih benar.

Sekadar contoh, meski demokrasi dan Islam sama-sama mengajarkan musyawarah, dalam praktiknya keduanya berbeda karena basis ideologi dan standarnya jelas berbeda. Musyawarah dalam sistem demokrasi tidak dipilah, mana pandangan hukum syariah, mana pandangan yang membutuhkan keahlian, dan mana pandangan yang tidak terkait dengan keduanya, tetapi membutuhkan suara mayoritas. Semuanya tidak dipilah. Semuanya diputuskan dengan suara mayoritas. Berbeda dengan Islam. Islam mengajarkan musyawarah dengan rincian hukum yang detail. Dalam perkara yang menyangkut hukum syariah, Islam menetapkan bahwa suara yang diambil adalah yang paling benar dari aspek dalil dan pemahaman terhadap dalil. Dalam perkara yang menyangkut keahlian, suara yang yang diambil adalah suara ahli dan pendapat yang paling benar. Dalam perkara yang tidak terkait dengan keduanya, Islam menetapkan suara yang diambil adalah suara mayoritas.

Ini adalah contoh betapa jelas perbedaan Islam dengan Kapitalisme dan Sosialisme-Komunisme, mulai dari aspek hulu hingga hilir. Pendek kata, perbedaannya bukan saja di tataran substansi, tetapi sampai pada tataran kulit dan aksiden. Karena itu pula, tidak boleh mendeskripsikan Islam sebagai kombinasi antara Kapitalisme-Komunisme dalam konteks ideologi dan pandangan hidup, sebagaimana sistem pemerintahan Islam disebut teodemokrasi karena mengkombinasikan antara kedaulatan Tuhan dan kekuasaan manusia. Deskripsi seperti ini selain mencerminkan ketidakcermatan, juga bisa merusak kejernihan Islam yang unik dan khas.

Karena itu Islam adalah agama dan ideologi yang unik dan khas, berbeda sama sekali dengan agama dan ideologi apapun yang ada di dunia ini.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb[KH. Hafidz Abdurrahman]

 

Catatan kaki:

1         Lihat: al-‘Allamah Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum, Kayfa Hudimat al-Khilâfah, Dar al-Ummah, Beirut.

2         Mereka ini oleh Imam al-Ghazali dan al-Hafidz Ibn al-Jauzi disebut kaum Dahriyyun. Dalam kitab Al-Munqidz min ad-Dhalâl dan Tahâfut al-Falasifah, Imam al-Ghazali jelas memvonis mereka kafir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *