Kemandirian Energi Pasti Bisa

By | 4 November 2019

Oleh: Dr. Fahmi Amhar

Ketika harga minyak dunia sedang rendah seperti saat ini, pemerintah bisa dengan mudah menghapus anggaran subsidi BBM dan mengalihkannya untuk pos anggaran yang lain. Namun seharusnya kita tidak terlena, karena suatu saat pasti harga minyak akan naik lagi. Sebagai sumber energi yang tidak terbarukan, cadangan minyak dunia terus berkurang, sementara kebutuhan terus naik akibat peningkatan populasi manusia dan standard hidup.

Untuk Indonesia, produksi minyak dalam negeri sudah tidak mencukupi kebutuhan, sehingga setiap hari lebih dari 600 ribu barrel minyak mentah dan BBM harus diimpor, dengan harga internasional. Ada upaya untuk meningkatkan bagian Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa bio-diesel untuk pengganti solar, dan bio-etanol untuk pengganti bensin. Bahkan ada studi dari Kementerian ESDM sejauhmana subsidi BBM itu dialihkan kepada BBN. Namun, kandungan BBN maksimum yang masih dapat ditanggung mesin otomatif hanya 15 persen, lebih dari itu, mesin-mesin itu wajib dimodifikasi.

Namun bicara energi tak bisa lepas dari banyak persoalan lain. Kita perlu bicara bagaimana sistem sosial di sebuah negeri yang akan berpengaruh pada tata ruangnya. Tata ruang ini akan menentukan se-efisien apa transportasinya. Apakah mengutamakan transportasi massal, atau justru kendaraan pribadi yang akan menambah kemacetan, mengotori udara dan meningkatkan kebutuhan BBM?

Soal energi juga terkait sistem pendidikan dan sistem ekonomi. Pendidikan menentukan penguasaan teknologi yang akan men-drive tingkat ketergantungan pada teknologi asing beserta aturan main yang mereka mau. Pada saat yang sama, hanya sistem ekonomi yang sehat yang dapat membuka akses yang luas pada pendidikan yang bermutu.

Lantas perlukah membawa-bawa Islam dalam persoalan ini? Bukankah banyak negara maju yang mandiri dalam energi meski tidak mengenal Islam?

Setidaknya ada tiga alasan mengapa kita “membawa-bawa” Islam dalam persoalan ini. Pertama, karena dorongan iman, bahwa di balik setiap perintah Allah pasti ada hikmah yang besar. Kedua, karena ajaran Islam ini holistis/syumul (menyeluruh). Keberhasilan persoalan teknis juga terkait dengan ibadah, dengan muamalah, dengan akhlak, bahkan dengan dakwah. Dan ketiga, ternyata sistem Islam sudah terbukti secara empiris dalam sejarah. Islam memberikan banyak inspirasi dan motivasi pada para ilmuwan untuk mempelajari sesuatu. Namun Islam juga membatasi metode ilmiah itu sesuai hukum syara’. Dan Islam juga mengajarkan tujuan yang jelas pada setiap kemajuan teknologi.

Ini misalnya contoh empiris dari sejarah:

Umat Islam bukanlah pengguna energi air yang pertama, tetapi mereka memberikan kontribusi yang luar biasa bagi penemuan mesin-mesin energi yang lebih efisien. Dan meski umat Islam bukan penikmat revolusi industri, mereka telah memberikan kontribusi yang besar pada dunia pertambangan, sehingga membuka jalan untuk eksploitasi dan pengolahan energi fosil.

Banu Musa bersaudara (abad 9 M) dan al Jazari (abad 12) adalah orang-orang yang mewariskan mesin-mesin yang sangat inovatif, baik dalam penggunaan energi air maupun untuk pertambangan.

Banu Musa terdiri dari tiga bersaudara, yang saat masih kecil ditinggal mati ayahnya, Musa bin Syakir, yang tewas ketika sedang menyamun! Namun Khalifah al-Ma’mun yang melihat bakat kecerdasan anak-anak itu justru memerintahkan agar mereka diasuh oleh Yahya bin Abi Mansur, astronom khalifah dan Mas’ul Baitul Hikmah (ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Khilafah). Muhammad bin Musa tumbuh menjadi astronom, matematikawan, dan meteorolog. Adiknya, Ahmad bin Musa menjadi insinyur pencipta mesin. Sedang si bungsu Hasan bin Musa besar di geometri dan ilmu konstruksi.

Sinergi tiga bersaudara itu antara lain menemukan desain lampu minyak yang tahan tiupan angin sehingga cocok dipakai di udara terbuka. Mereka juga membuat alat ventilasi dan mesin keruk yang dirancang secara cerdas dan dimuat dalam buku mereka “Kitab al-Hiyal”.

Versi Bahasa Inggris Kitab Al-Hiyal

Versi Bahasa Inggris Kitab Al-Hiyal

Mesin keruk dalam manuskrip Banu Musa,  dari koleksi Staatsbibliothek Berlin

Mesin keruk dalam manuskrip Banu Musa,
dari koleksi Staatsbibliothek Berlin

 

Ilustrasi Banu Musa dalam perangko Suriah

Ilustrasi Banu Musa dalam perangko Suriah

 

Saat itu (bahkan di Indonesia hingga saat ini), banyak pertambangan liar yang tidak begitu peduli aspek-aspek keselamatan. Orang berebutan untuk sampai ke posisi tambang yang diharapkan, sehingga dapat saja orang memulai harinya dengan kekayaan dan menjelang malam dia tak lagi memiliki apa-apa, akibat keduluan orang lain. Atau dia memulai dengan kemiskinan di pagi hari, dan malamnya menjadi pemilik sumber kekayaaan yang tak terhingga besarnya. Lokasi tambang bisa menjadi kuburan massal akibat gas beracun atau air bah yang memancar tiba-tiba dari sungai di dalam tanah.

Namun pada penambangan-penambangan yang dikelola pemerintah, sudah digunakan ventilator karya Banu Musa dan pompa air karya Taqiyuddin.

Dengan alat-alat itu tak heran, ketika geografer al-Idrisi (abad 12 M) mengunjungi tambang air raksa di utara Cordoba Spanyol, ia diberitahu bahwa kedalaman lubang tambang dari permukaan tanah tidak kurang dari 250 fanthom (sekitar 457 meter). Itu tidak mungkin tanpa ventilator, pompa air, dan drainase yang memadai.

Tentang pengolahan tambang, Al-Biruni menulis: “Pencarian batu la’l (sejenis rubi) dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan menggali tambang di bawah gunung, dan yang lain dengan mencarinya di antara kerikil dan tanah yang berasal dari reruntuhan gunung akibat gempa bumi atau erosi karena banjir”. Dalam kitabnya al-Jamahir, al-Biruni membahas tentang berbagai mesin pengolah mineral. Mesin-mesin itu mirip penggiling kertas, tetapi yang dihancurkannya adalah batuan. Setelah dihancurkan sampai halus, batuan itu kemudian dapat dipisahkan, misalnya emas dari tembaga. Seluruh mesin-mesin ini pada abad ke-4 H (atau abad-10 M) telah digerakkan dengan tenaga air.

Meski pada saat itu batubara atau minyak bumi belum banyak diketahui manfaatnya, sehingga teknologinya pun belum berkembang, namun tanpa alat-alat pertambangan yang dikembangkan kaum Muslimin saat itu, eksploitasi batubara dan minyak bumi saat ini tidak bisa dibayangkan.

Yang jelas, teknologi bagaimanapun hanyalah alat. Tanpa tata energi dan sumberdaya mineral yang adil, teknologi itu hanya makin memperkaya mereka yang kuat dan bermodal yang umumnya konsorsium asing, dengan mengabaikan hak-hak pemilik sesungguhnya yaitu umat. Hanya negara yang benar-benar merdeka, yang berani melawan tekanan asing, sehingga menerapkan syariat, teknologi dengan bersemangat, sehingga kemandirian energi pasti bisa diraih kembali.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *