Boros (Isrâf) dan Mubadzir (Tabdzîr)

By | 1 Juli 2020

Boros (Isrâf) dan Mubadzir (Tabdzîr Sebagian orang memandang bahwa berinfaq dalam jumlah banyak adalah tercela, begitu juga banyak belanja untuk perkara yang tidak terlalu penting, seperti sudah punya satu buah handphone maka tidak boleh membeli satu atau dua buah lagi. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala: وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا، إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “… Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan” (QS. Al Isra : 26-27) وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan : 67) Memang menurut bahasa, kata saraf dan isrâf maknanya adalah melampaui batas, sementara tabdzîr dipergu­nakan dalam kalimat: badzara al-mâl tabdzîran maknanya adalah menghambur­kan-hamburkan harta. Hanya saja kata isrâf dan tabdzîr dalam kedua ayat tersebut maknanya bukanlah sekedar makna bahasanya saja. Imam al-Qurthubi mengutip Abu Ja’far an-Nahhâs (w. 338 H), seorang ahli tafsir dan pakar bahasa, ketika menafsirkan ayat tersebut mengatakan: وَمِنْ أَحْسَن مَا قِيلَ فِي مَعْنَاهُ أَنَّ مَنْ أَنْفَقَ فِي غَيْر طَاعَة اللَّه فَهُوَ الْإِسْرَاف، وَمَنْ أَمْسَكَ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهُوَ الْإِقْتَارُ، وَمَنْ أَنْفَقَ، فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ الْقَوَامُ “diantara perkataan terbaik tentang makna isrâf ini adalah bahwasanya barang siapa yang menafkahkan hartanya pada jalan yang bukan jalan ketaatan kepada Allah, itulah isrâf, barang siapa yang menahan hartanya dari membelanjakannya di jalan ketaatan kepada Allah itulah pelit, dan barang siapa yang menafkahkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah itulah qawâm (pertengahan).”[1] Jadi yang dimaksud boros/isrâf dalam ayat ini adalah membelanjakan harta untuk kemaksiatan, walaupun yang dibelanjakannya itu sedikit. Ibnu Abbas r.a berkata: مَنْ أَنْفَقَ مِائَةَ أَلْفٍ فِي حَقٍّ فَلَيْسَ بِسَرَفٍ، وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِي غَيْرِ حَقِّهِ فَهُوَ سَرَفٌ “Barang siapa membelanjakan 100 ribu pada jalan yang benar maka tidak termasuk dalam kategori boros, dan barang siapa yang membelanjakan walaupun hanya satu dirham dalam jalan yang salah maka dia berlaku boros.” [2] Sebagian ahli tafsir memahami bahwa isrâf itu adalah jika memakai yang bukan haknya. ‘Aun bin Abdullah bin ‘Uthbah menyatakan: لَيْسَ الْمُسْرِف مَنْ يَأْكُل مَاله، إِنَّمَا الْمُسْرِف مَنْ يَأْكُل مَال غَيْره “Orang boros bukanlah orang yang makan dari hartanya sendiri, namun orang boros adalah yang makan hartanya orang lain.”[3] Sementara itu Yazid bin Abi Habib menyatakan tentang prilaku qawâm/pertengahan dalam berbelanja yang dipuji Allah Ta’ala dengan mengatakan: كَانُوا لَا يَلْبَسُونَ ثَوْبًا لِلْجَمَالِ، وَلَا يَأْكُلُونَ طَعَامًا لِلَّذَّةِ، وَلَكِنْ كَانُوا يُرِيدُونَ مِنَ اللِّبَاس مَا يَسْتُرُونَ بِهِ عَوْرَتهمْ، وَيَكْتَنُّونَ بِهِ مِنَ الْحَرّ وَالْقُرّ، وَيُرِيدُونَ مِنَ الطَّعَام مَا سَدَّ عَنْهُمْ الْجُوع، وَقَوَّاهُمْ عَلَى عِبَادَة رَبّهمْ “Mereka adalah orang yang tidak memakai baju hanya untuk berhias, tidak makan sekedar untuk berlezat-lezat, tetapi mereka memakai baju dengan niat menutup aurat dan melindungi tubuh dari panas dan dingin, mereka makan dengan motivasi menutupi rasa lapar dan menguatkan tubuh untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.” [4] Oleh karena itu tidaklah tercela jika seseorang memiliki dua rumah atau lebih, beberapa kendaraan, maupun harta duniawi lainnya selama itu semua diperoleh dengan jalan yang halal dan dipergunakan dalam jalan yang di ridhai Allah Ta’ala. Hanya saja walaupun halal, kondisi hati seseorang tetap memberikan efek terpuji atau tercelanya seseorang. Bermegah-megah dan bergaya hanya karena gengsi kepada manusia dan menganggap dengan hal tersebut dirinya menjadi mulia, ini termasuk sikap yang tercela. Allaahu A’lam. [MTaufikNT] [1] Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Qurthuby, Al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, Pentahkik. Ahmad Barduni dan Ibrahim Athfisy (Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyah, 1964), Juz 13, h. 72. [2] Ibid., Juz 13, h. 73. [3] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Jâmi Al-Bayân Fî Ta’wîl al-Qur’ân, Pentahkik. Ahmad Muhammad Syakir, Cet. I. (Beirut: Muassasah al-Risâlah, 2000), Juz 19, h. 300. [4] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabari, Jâmi Al-Bayân Fî Ta’wîl al-Qur’ân, Pentahkik. Ahmad Muhammad Syakir, Cet. I. (Beirut: Muassasah al-Risâlah, 2000), Juz 19, h. 300.