Jual Beli Emas dengan Kredit

By | 5 Oktober 2020

 

KH Hafidz Abdurrahman

Mengenai hukum jual beli emas secara angsuran, ulama berbeda pendapat. Perbedaan tersebut berkisar pada pendapat. Pertama, haram, atau dilarang ini merupakan pendapat mayoritas fuqaha baik dari kalangan mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, maupun Hambali.

Kedua, boleh, mubah. Ini merupakan pendapat Ibn Taimiyah, dan muridnya, ibn Qayyim al-Jauziyyah, dan ulama kontemporer yang sependapat dengan keduanya.

Argumentasi ulama yang melarang, atau mengharamkan praktik jual-beli emas secara kredit, dasarnya adalah keumuman hadits tentang riba, yang diantaranya menegaskan. “Janganlah engkau menjual emas dengan emas, dan perak dengan perak, kecuali secara tunai.”

Mereka menyatakan, emas dan perak adalah tsaman (harga), yang tidak boleh dipertukarkan secara kredit, maupun tangguh, karena itu menyebabkan terjadinya riba. Dalam hal ini, syarat yang dinyatakan oleh Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama ada dua. Pertama, harus sama timbangannya. Kedua, cash/kontan, tidak boleh dicicil, atau dikredit. Artinya, jika sama timbangannya, tetapi tidak kontan, maka di dalamnya terjadi riba.

Poin larangan ini terletak pada manath (fakta hukum) emas dan perak sebagai alat tukar, atau perdagangan secara barter. Karena memang di masa lalu emas dan perak dijadikan sebagai alat tukar, dengan dinar (emas) dan dirham (perak).

Lain lagi dengan ulama yang menyatakan kebolehan transaksi jual beli emas dengan kredit. Ulama yang menyatakan kebolehan tersebut mengemukakan argumentasi dan dalil sebagai berikut:

1. Emas dan perak tidak selamanya menjadi alat tukar, tetapi ada juga yang dijadikan sebagai barang komoditas (dagangan). Barang (sil’ah) yang dijual dan dibeli, baik emas maupun yang lain, seperti halnya barang biasa, dan bukan lagi tsaman (harga, alat pembayaran, uang).

2. Manusia sangat membutuhkan untuk melakukan jual beli emas, baik sebagai alat tukar (sharf) maupun barang (sil’ah). Jika tidak diperbolehkan jual beli emas secara kredit, maka kemaslahatan manusia akan rusak dan mereka akan mengalami kesulitan.

3. Emas dan perak setelah dibentuk menjadi perhiasan berubah menjadi layaknya pakaian dan barang, bukan merupakan tsaman (harga, alat pembayaran, uang). Karena itu tidak terjadi riba (dalam pertukaran atau jual beli) antara perhiasan dengan harga (uang). Begitu juga, tidak ada riba (dalam pertukaran atau jual beli) antara harga (uang) dengan barang lainnya. meskipun bukan dari jenis yang sama.

4. Jika pintu (jual-beli emas secara kredit) ini ditutup, maka tertutuplah pintu utang piutang, dan masyarakat pun akan mengalami kesulitan yang tidak terkira.

Berdasarkan manath emas dan perak, serta perbedaan pendapat di kalangan fuqaha mengenai hukum jual beli dengan kredit, maka disimpulkan, perbedaan tersebut terjadi karena pijakan faktanya yang berbeda. Pihak yang mengharamkan, berpijak pada fakta emas dan perak sebagai tsaman (alat tukar uang dan harga), karena itu berlaku hadits riba di atas. Adapun pihak yang membolehkan berpijak pada fakta, bahwa emas dan perak yang dijualbelikan dengan kredit tersebut sebagai barang (sil’ah).

Nah, kedua fakta ini memang ada. Terlebih, saat ini, ketika standar mata uang tidak lagi menggunakan emas dan perak. Karena itu, pemisahan diantara keduanya, antara emas dan perak sebagai mata uang, dengan barang. sangat jelas. Karena mata uang yang digunakan bukan lagi emas dan perak. Dengan kata lain, sekarang emas menjadi komoditas.

Karena itu, kesimpulan boleh dan tidaknya, bisa didasarkan pada fakta jual-belinya. Jika jual-beli emas dan perak tersebut dilakukan dengan barter, antara emas dan perak juga, misalnya emas dengan emas, atau perak dengan perak, maka berlaku hadits di atas. Harus sama timbangan dan kontan. Begitu juga, jika terjadi jual-beli kredit antara emas dengan perak secara barter, maka harus kontan, tentu saja dengan timbangan yang berbeda. Dengan kata lain, dalam kasus sharf tidak boleh kredit.

Tetapi, jika emas dan perak tersebut menjadi komoditas murni, seperti perhiasan, atau logam batangan, dan tidak dalam transaksi sharf, baik barter emas dengan emas, maupun emas dengan perak, tetapi dalam tansaksi jual-beli (bai’), maka larangan tersebut tidak berlaku. Karena itu, boleh dibeli dengan kredit, atau dalam tanggungan (dzimmah). Dengan syarat, harganya harus fiks berdasarkan kurs saat akad, dan tidak ada penipuan. Wallahu a’lam.[] har

Sumber: Media Umat edisi 274

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *