Hukum Jual Beli Saham dan Bursa Saham

By | 21 Desember 2020

Hukum Jual Beli Saham dalam Bursa Saham

Saham dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang haram seperti miras, perjudian, riba, pornografi, dll, memperdagangkan sahamnya juga haram, tidak ada perbedaan pendapat ahli fikih dalam hal ini. Dalil yang mengharamkan jual beli saham perusahaan seperti ini adalah semua dalil yang mengharamkan segala aktivitas haram tersebut.

Adapun jika saham yang diperdagangkan di pasar modal itu dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang halal, maka para ‘ulama berbeda pendapat, sebagian membolehkan dengan syarat terpenuhinya syarat dan rukun jual beli, seperti harga sahamnya harus fixed saat akad, saham yang dijual haruslah sudah dimiliki dan sudah serah terima, dan tidak ada gharar,[8] sebagian ulama lainnya tetap mengharamkannya.

Alasan keharamannya bukan sekedar pada tidak terpenuhi syarat dan rukun jual beli saham, namun lebih mendasar dari itu yakni tidak sahnya badan usaha (PT) yang mengeluarkan saham-saham tersebut dalam kacamata Islam. [9] Tidak sahnya PT yang ada disebabkan oleh:

Pertama, tidak terpenuhinya definisi akad syirkah dalam Islam, yakni ‘akad antara dua orang atau lebih yang bersepakat melakukan aktivitas untuk mendapat keuntungan’. Ijab dan kabul tidak ada dalam PT, yang ada hanyalah transaksi sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham yang dikeluarkan perusahaan, tanpa ada perundingan apa pun baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor) lainnya. Padahal dalam syirkah, pesero A dalam suatu syirkah bisa menolak B yang ingin bergabung dengan syirkah tersebut.

Kedua, tidak ada unsur badan (pengelola), dimana pengelola inilah yang melakukan tasharruf harta tanpa diupah, pengelola hanya mendapatkan persentase dari keuntungan sesuai dengan kesepakatan jika perusahaan untung, sebaliknya jika usaha yang dilakukan rugi pengelola tidak mendapatkan apapun.
Direktur maupun komisaris yang ada pada perusahaan statusnya bukanlah pengelola dalam makna yang syar’i. Tidak bisa dikatakan bahwa merekalah pengelola yang merupakan wakil dari investor karena: 1) aktivitas pengelolaan tidak bisa diwakilkan, sebagaimana aktivitas ‘persuami-istrian’ tidak bisa diwakilkan meskipun akad nikahnya boleh diwakilkan, 2) faktanya mereka bukanlah wakil dari orang (investor), namun hanya mewakili harta, alasannya yang menjadikan mereka duduk di sana bukanlah orang per orang melainkan banyaknya saham. Orang yang memiliki saham 100 suaranya 20 kali dari orang yang sahamnya hanya 5, dengan demikian pemegang saham pun hakikatnya tidak mewakili badan (diri) mereka, yang berserikat sebenarnya hanyalah modal mereka.

Ketiga, keberadaan PT yang sifatnya ‘permanen’ bertentangan dengan syara’.[10] Syirkah jika terdiri atas dua orang saja seharusnya bubar jika salah satu peseronya meninggal, gila, dihajr (dilarang beraktivitas bisnis) atau membatalkan akad. Jika terdiri atas banyak orang, maka berhentilah posisi pesero yang meninggal kecuali jika si mayit memiliki ahli waris yang layak yang melanjutkan perseroan. Posisi pesero juga terputus jika dia gila atau dihajr (dilarang beraktivitas bisnis), sementara perseroan saham (PT), apapun kondisi peseronya statusnya tetap sebagai pesero.

Jika ketiga hal tersebut bisa diubah agar sesuai syariah, barulah layak dipertimbangkan kebolehannya dengan syarat-syarat sebagaimana yang disampaikan oleh pihak yang membolehkannya.

Bahaya Bursa Saham Bagi Ekonomi
Jika realitas bursa saham, terutama di pasar sekunder, dikaji secara mendalam akan didapati berbagai bahayanya dalam bidang ekonomi, diantaranya:

Pertama, ‘perjudian’. Prof. Maurice Allais, peraih Nobel Ekonomi 1997 dalam tulisannya “The Monetary Conditions of an Economy of Markets” menyebut kenyataan bahwa spekulasi pada bursa valas maupun bursa saham telah menjadikan dunia saat ini seperti big casino (kasino besar) dengan meja judi yang tersebar ke seluruh penjuru dunia, dengan jutaan pemain yang bermain tanpa henti dari New York, Tokyo, Hongkong, Frankfurt hingga Paris. Setiap spekulasi didukung oleh kredit/hutang karena seseorang dapat membeli tanpa membayar dan menjual tanpa memiliki.[11]
Sebagaimana judi, adanya keuntungan yang diperoleh satu pihak akan ditanggung oleh kerugian di pihak lain, tidak mungkin semua mendapat kemenangan kecuali jika trend grafik harga sahamnya selalu naik, satu hal yang hampir mustahil.
Jika grafik harga saham fluktuatif, dan ini memang realitas umumnya, untuk untung, kita harus beli di harga rendah dan menjualnya di harga tinggi, agar bisa terjadi seperti itu, tentu ada yang harus membeli di harga tinggi dan terpaksa menjualnya di harga rendah. Kita untung, tapi yang lainnya rugi. Lebih parah lagi jika trend grafiknya menurun, akan ada yang rugi sedikit, ada pula yang dalam 30 menit seseorang kehilangan Rp196,5 triliun.[12]
Adapun dalam jual beli sektor riil, keuntungan yang diperoleh satu pihak pada umumnya tidak dibarengi dengan kerugian pihak lain. Penjual pentol dengan modal Rp700 perbiji dijual dengan harga Rp1000 perbiji, dia tidaklah merasa rugi, begitu juga pembelinya tidak merasa rugi. Kalaupun tidak habis terjual, penjualnya masih bisa memakannya sendiri. Memang jual beli di sektor real juga bisa rugi, namun itu bisnis yang halal dan proses kerugiannya tidak seperti pada saham.

Kedua, penjajahan ekonomi. Lewat bursa saham, investor asing ingin menyedot dan menguasai kekayaan negeri-negeri kaum muslimin dengan dalih investasi. Investasi dalam bursa saham ini sebenarnya bukanlah investasi riil. Mereka hanya membeli sejumlah saham perusahaan-perusahaan lokal yang dikelola oleh negara atau oleh pemiliknya yang usahanya berskala lokal. Mereka tidak bertujuan untuk memiliki atau mengelola perusahaan, dan tidak pula bertujuan untuk ikut memperoleh laba perusahaan dengan menunggu dividen yang dibagikan pertahun. Buku-buku semisal All About Short Selling[13] menunjukkan bahwa tujuan investasi dalam pasar modal bukanlah untuk benar-benar berinvestasi pada perusahaan sehingga mereka akan membangun perusahaan tersebut, namun sekedar untuk meraih keuntungan semata. Tujuan mereka adalah memperoleh laba (capital gain) yang besar secara cepat, karena adanya lonjakan harga-harga saham yang telah mereka beli.

Jika lonjakan harga tidak terjadi secara alami, mereka akan merekayasa pasar modal sedemikian rupa untuk tujuan mereka tersebut, dengan cara mempengaruhi harga-harga saham di negara-negara yang disebut negara-negara berkembang. Para investor asing tidak mengalami kesulitan dalam merekayasa harga-harga saham tersebut dikarenakan level pasar modal di negara-negara berkembang tersebut yang masih kecil, juga orang-orang lokal yang berdagang saham di pasar modal tersebut sedikit, yang dapat ditaklukkan dengan iming- iming harta benda, trik-trik pasar, serta gertakan-gertakan yang dilakukan oleh para investor Barat.[14]

Penutup
Kerugian yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan semata kerugian materi. Seorang muslim hendaknya berfikir kehalalan suatu bisnis sebelum dia menjalankannya. Jika bisnis yang dijalankan haram, berapapun potensi keuntungan materi yang akan didapatnya, kerugian non materinya tentu tak terkira besarnya. Rasulullah menyatakan:
وَلَا يَكْسِبُ عَبْدٌ مَالًا مِنْ حَرَامٍ، فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ، وَلَا يَتَصَدَّقُ بِهِ فَيُقْبَلَ مِنْهُ، وَلَا يَتْرُكُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زَادَهُ إِلَى النَّارِ
“Dan tidaklah seorang hamba mencari harta yang haram, lalu membelanjakannya lantas ia diberkahinya dan tidaklah bersedekah lantas diterima darinya dan tidaklah ia meninggalkan di belakang punggungnya (mewariskannya) melainkan akan menambahnya ke neraka.” (HR. Ahmad)

Selengkapnya di https://mtaufiknt.wordpress.com/2020/12/21/hukum-jual-beli-saham-dalam-bursa-saham/