Hukum Menyewakan Rumah dengan Jaminan

By | 28 Desember 2020

 

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Tanya :

Assalamua’laikum ustadz, apa boleh menyewakan barang seperti rumah dan menarik uang jaminan? Uang jaminan akan dikembalikan ke penyewa apabila barang yg disewa dikembalikan dengan kondisi seperti semula. (Hamba Allah, Bantul)

Jawab :

Wa alaikumus salam
Tidak boleh hukumnya menyewakan rumah dengan menarik uang jaminan, karena telah terjadi penggabungan dua akad yang telah diharamkan syariah, yaitu akad tabarru’at (akad sosial) seperti qardh (pinjaman) dengan akad mu’awadhat / tijarah (akad komersial) seperti jual beli dan ijarah (sewa).

Pada kasus di atas, uang jaminan itu hakikatnya adalah qardh (pinjaman), karena di akhir masa sewa uang jaminan itu akan dikembalikan jika tidak terjadi kerusakan barang sewa.

Maka dari itu menyewakan rumah disertai uang jaminan, artinya menggabungkan akad tabarru’at (akad sosial seperti qardh) dengan akad mu’awadhat / tijarah (akad komersial spt jual beli dan ijarah).

Gabungan dua akad tersebut hukumnya haram, sesuai sabda Nabi SAW :

(لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ) رواه الترمذي (1234) وأبو داود (3504) والنسائي (4611)، وصححه الترمذي والألباني

“Tidak halal salaf (qardh/pinjaman) digabungkan dengan jual beli.” (HR Tirmidzi, no. 1234; Abu Dawud, no. 3504; Nasa’i, no.4611; dan dinilai sahih oleh Al Albani).

Solusinya, dalam perjanjian sewa itu ada rincian siapa yang menanggung kerusakan barang sewa (rumah);
Pertama, jika terjadi kerusakan yang disebabkan oleh force majeur (kondisi kahar) seperti gempa bumi, banjir, puting beliung, dsb, maka kerusakan menjadi tanggungan pemilik rumah.
Kedua, jika kerusakan disebabkan oleh kelalaian atau kesengajaan penyewa rumah, misal tembok menjadi kotor karena dicoret-coret oleh anak penyewa, dsb, maka kerusakan itu menjadi tanggungan penyewa rumah, sesuai kadar kerusakan yang terjadi, sebagai upaya menghilangkan dharar (kerugian) karena kerusakan yang terjadi. Ini yang dalam fiqih disebut ta’widh ‘an dharar (ganti rugi untuk suatu kerugian), berdasarkan hadis Nabi SAW ,”La dharara wa laa dhiraara.” (Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bahaya bagi orang lain). (HR Ibnu Majah dan Ad Daraquthni, dinilai sahih oleh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, no. 250).

Jadi, di awal akad, haram hukumnya pemilik rumah minta uang jaminan. Tetapi jika benar terjadi kerusakan rumah akibat kelalaian atau kesengajaan penyewa, pemilik rumah berhak minta uang ganti rugi kepada penyewa sesuai kerusakan yang terjadi. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 27 Desember 2020

M. Shiddiq Al Jawi

KONTAK KAMI
FISSILMI KAFFAH
Email : fissilmikaffah.info@gmail.com